Cara Agar Tetap Kompak Orang tua Setelah Bercerai

Salah satu efek terberat perceraian orangtua dapat dirasakan oleh anak. Itu sebabnya kini banyak yang berupaya menjaga pertalian baik bersama mantan suami atau istri demi pengasuhan anak.

Istilah berikut dinamakan bersama “keluarga binuklir”, yakni orangtua yang tinggal di rumah terpisah namun masih satu keluarga. Menurut terapis keluarga dan profesor emerita di University of Southern California, Constance Ahrons yang menciptakan istilah tersebut, di dalam keluarga semacam itu anak-anak diasuh oleh dua pakai orangtua.

Diharapkan tumbuh kembang anak tidak terganggu bersama pola asuh semacam ini dibandingkan bersama mereka yang bermusuhan, lebih-lebih berebut hak asuh anak.

Demi anak, orangtua sanggup berupaya perceraian yang “membahagiakan”. Untuk mencapainya, dibutuhkan syarat berikut ini:

 

1. Bedakan kasus pasangan bersama pengasuhan

Ketika anda menikah dan punyai anak, maka anda punyai dua peran: sebagai pasangan dan orangtua. Sehingga sehabis bercerai kita pun mesti membuat perbedaan peran, terutama dikala dapat berdiskusi bersama mantan perihal keperluan anak. Ahrons mengatakan, sering terjadi dikala mulanya membicarakan anak lalu berakhir bersama pertengkaran perihal sesuatu di pernikahan mereka.

Dibutuhkan kerja keras untuk menghindarinya. “Orangtua mestinya memilih apa yang dapat dibahas sementara itu, jikalau perihal anak, untuk menjaga obrolan tidak melebar ke mana-mana,” katanya. Membagi dua isu berikut termasuk menjaga anak terlindungi berasal dari kasus pasangan. Yang sering terjadi anak dilibatkan di dalam pertengkaran tersebut.

Dalam survei yang dilaksanakan Popsugar terhadap 70 pembaca yang orangtuanya bercerai, banyak yang berharap mereka tak sadar perbincangan orangtuanya. “Tak pikirkan berapa pun usia anak, mereka punyai hak untuk tidak terlibat di dalam perselisihan orangtua,” kata Diana M. Adams, seorang pengacara yang mengatasi persetujuan hak asuh anak dan membantu sejumlah keluarga melalui perceraian kolaboratif.

Ketika hadapi perceraian, carilah orang dewasa lain, bukan curhat ke anak, untuk membicarakan perihal mantan pasangan.

2. Membuat persetujuan

Langkah selanjutnya adalah membuat semacam persetujuan dan peraturan untuk bekerjasama mengurus anak-anak. Persetujuan berikut membuat ke-2 belah pihak terikat. Ahrons mengatakan, dikala pasangan suami istri bercerai, mereka idealnya menyesuaikan segala detail. Misalnya, membagi kapan anak dapat tinggal bersama masing-masing orangtuanya dan menanggung ongkos kebutuhan anak.

“Selama proses perceraian, penting untuk mengayalkan perihal pengambilan keputusan ke depan tentang hal-hal penting anak dan bagaimana ke-2 belah pihak sanggup merampungkan kasus tanpa mesti lagi ke pengadilan,” ujar Adams, yang termasuk menyusun dokumen legal untuk banyak pasangan.

 

3. Berbagi hak asuh anak

Anak yang orangtuanya bercerai dan tidak sharing hak asuh cenderung lebih marah bersama perceraian orangtuanya dan tidak cukup bahagia.

Rumah orangtua yang mendapat hak asuh resmi sanggup menjadi rumah utama anak, sementara rumah orangtua lainnya sanggup dikunjungi kerika akhir pekan atau sesekali dikala dapat makan malam bersama.

 

4. Pertimbangan kebutuhan anak cocok usia

Cara lainnya sehingga anak lebih ringan terima perceraian orangtua adalah selalu memenuhi kebutuhan mereka cocok bersama usia. Misalnya, hingga usia anak 3 th. biasanya anak tidak ingat bahwa ke-2 orangtuanya itu pernah bersama menjadi mereka ringan beradaptasi.

Namun, jika usia anak sedikit lebih dewasa, hadapi perceraian orangtua cenderung lebih susah bagi mereka. Pada survei pembaca Popsugar, responden di bawah usia 13 th. cenderung lebih marah terhadap perceraian ke-2 orangtuanya ketimbang responden remaja atau dewasa muda.

Anak-anak remaja termasuk hadapi tantangan unik. Ahrons mengatakan, remaja sementara ini cenderung fokus terhadap diri mereka sendiri dan lebih narsis. Sehingga dikala orangtua mereka mampir dan mengacaukannya, mereka dapat benar-benar marah.

Menurut Ahrons, perceraian dikala anak memasuki masa transisi, seperti sementara dapat memasuki bangku kuliah, sebaiknya dihindari. Sebab anak cenderung berpikir apakah orangtuanya selama ini bersandiwara gara-gara ia lihat mereka baik-baik saja.

 

5. Pertimbangkan dikala dapat memperkenalkan pasangan baru

Sebaiknya tunggu setidaknya enam bulan hingga satu th. sebelum akan memperkenalkan anak terhadap siapapun. Sebab, keadaan berikut dapat membuat anak terasa kehilangan benar-benar cepat.

Selain itu, dikala dapat memperkenalkan pasangan baru, pastikan anda memberitahu mantan pasangan perihal rencana tersebut. “Salah satu sumber rasa sakit dan instabilitas terhadap anak berasal dari perceraian orangtua adalah dikala mereka mesti terhubung pintu untuk pasangan baru orangtua mereka,” kata Adams.

Menurut survei, mereka yang punyai pertalian positif bersama orangtua tirinya telah meniti pendekatan perlahan di awal. Orangtua yang menjunjung kebutuhan anak, bersama selalu menjaga hal-hal tentang mantan pasangannya, cenderung beroleh persetujuan anak untuk pasangan baru.

 

6. Atasi bersama baik perceraian gara-gara perselingkuhan

Menjaga pertalian baru adalah perihal sulit, namun dapat jauh lebih menantang jika pernikahan berakhir gara-gara ada perselingkuhan. Biasanya pengasuhan bersama termasuk dapat lebih sulit. “Mereka barangkali merasakan rasa marah, dendam dan terhina dikala mesti melalui perceraian berikut dan membuat keputusan bersama perihal bagian sumber finansial atau jadwal kunjungan,” kata Adams.

Situasi ini dapat benar-benar menyakitkan untuk pihak yang dikhianati. Namun, gara-gara mereka masih mesti meniti perceraian kolaboratif, lebih baik mereka menyimpan amarah dan dendam sehingga tidak timbul rasa sakit lebih atau trauma.

 

7. Jangan bertengkar setiap kali berjumpa

Ketika telah bercerai, biasanya dapat tersedia saja potensi konflik bersama mantan pasangan. Situasi itu dapat membuat anak kesal. Jadi, alih-alih perlihatkan pertengkaran, lebih baik menghindari pertalian langsung. Misalnya, membagi tugas mengantar-jemput anak (satu orangtua mengantar dan satu lagi menjemput). “Anak-anak tak mesti orangtuanya menjadi sahabat. Tapi mereka tidak rela terasa was-was perihal apa yang terjadi dikala kalian bertemu,” kata Ahrons.

 

8. Jangan menyimpan kasus di bawah permukaan

Bahkan terhadap pernikahan tanpa drama sekalipun, perceraian sanggup membawa kasus tak terlihat. Terutama jika tersedia kasus komunikasi sebelumnya. Pada type pernikahan seperti itu, kasus di bawah permukaan seringkali membuat amarah yang lebih besar dikala perceraian.

Misalnya saja perbedaan pandangan perihal uang, kasus asuh anak, atau keseimbangan kerja dan rumah. Mantan pasangan yang hadapi kasus ini seringkali menjadi lebih tidak stabil sehabis perceraian dilakukan. Bahkan dikala kasus utama telah diselesaikan atau diputuskan, amarah masih sanggup tersisa.

Namun, alih-alih berpura-pura segala perihal baik-baik saja, orangtua sebaiknya memperbolehkan anak-anak menghadiri sesi terapi untuk membicarakan kasus mereka sehingga mereka pun sanggup hadapi keadaan susah tersebut.

You may also like...